Antropologi Budaya dan Sejarah

Penelitian Ilmiah Masalah Penelitian dan Objektifitas Data

Penelitian Ilmiah Masalah Penelitian dan Objektifitas Data

*) Makalah dalam Penataran Metode Penelitian Kualitatif di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Tahun 1991. Oleh: Parsudi Suparlan.

Secara sadar ataupun tidak sadar, setiap orang dalam kehidupannya sehari-hari sebenarnya melakukan kegiatan-kegiatan penelitian. Ini dilakukannya dalam usahanya untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsip yang men-dasar dan umum berkenaan dengan landasan dari sesuatu gejala atau masalah yang dihadapinya sehingga masalah tersebut da-pat dipahami dan masuk akal baginya, sehingga berguna baginya dalam menyusun strategi untuk menghadapinya atau memanfaatkannya bagi kepentingannya. Penelitian-penelitian yang kita lakukan sebagai orang awam biasanya tidak kita la-kukan secara sistematik; dan informasi-informasi yang kita kumpulkan biasanya bersifat subyektif yang penuh dengan muatan- muatan perasaan dan emosi kita, yang karena itu dapat digolongkan sebagai penelitian yang bersifat stereotipik, etnosentrik, atau cauvinistik. Penelitian secara awam berbeda coraknya dengan penelitian secara ilmiah. Uraian pendek ini dimaksudkan untuk menjelaskan apa yang dinamakan penelitian ilmiah. Uraian mencakup pembahasan mengenai: (1) pengertian penelitian ilmiah; (2) tahapan-tahapannya; (3) masalah penelitian; dan (4) penelitian kwalitatif dan obyektivitas data.


Penelitian Ilmiah dan Metode Ilmiah

Penelitian ilmiah adalah suatu kegiatan yang sistematik dan obyektif untuk mengkaji suatu masalah dalam usaha untuk dapat mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsipnya yang mendasar dan umum berkenaan degan landasan atau inti perwujudan masalah tersebut. Penelitian yang dilakukan berpedoman pada berbagai informasi (yang terwujud sebagai teori-teori) yang telah dihasilkan dalam penelitian-penelitian yang terdahulu dan bertujuan untuk menambah atau menyempurnakan teori atau pengetahuan yang telah ada mengenai masalah yang menjadi sasaran kajian.

Landasan dasar dari suatu kegiatan penelitian ilmiah adalah: metode ilmiah. Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah; dalam sains melalui pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi; dan dalam ilmu-ilmu sosial atau budaya pada umumnya dilakukan dengan melalui wawancara dan pengamatan. Metode ilmiah didasari oleh pemikiran bahwa pengetahuan itu terwujud melalui apa yang dialami oleh pancaindera, dan jika suatu pernyataan mengenai gejala-gejala itu harus diterima sebagai kebenaran maka gejala-gejalat tersebut haruslah dapat diverifikasi secara empirik. Jadi setiap hukum atau teori ilmiah haruslah dibuat berdasarkan atas bukti empirik.

Penciptaan teori, sebenarnya adalah bagian yang amat penting dari metode ilmiah. Sebuah kerangka teori menyajikan cara-cara untuk bagaimana mengorganisasi dan menginterpretasi hasil-hasil penelitian, dan menghubungankannya dengan hasil-hasil penelitian yang telah dibuat sebelumnya oleh peneliti-peneliti lainnya. Dengan demikian, karena sebenarnya pengetahuan ilmiah itu adalah suatu proses akumulasi dari pengetahuan, maka juga penting dari metode ilmiah adalah untuk menghubungkan penemuan-penemuan ilmiah dari waktu dan tempat yang berbeda. Walaupun pada hakekatnya metode ilmiah dalam sains itu lebih menekankan pentingnya peranan metode induktif, karena tujuan utamanya adalah penciptaan generalisasi-generalisasi berlandaskan pada fakta-fakta spesifik atau khusus dalam saling kaitan antara penelitian, penciptaan teori, dan verifikasi, tetapi dalam ilmu-ilmu sosial baik metode induktif maupun metode deduktif sama-sama penting peranannya.

Tidak selamanya sebuah hasil penelitian seorang ilmuwan dapat diterima oleh ilmuwan-ilmuwan lainnya. Bila terjadi perbedaan pendapat mengenai hasil penelitian, khususnya banyak terjadi dalam bidang sains, maka keputusan mengenai kebenarannya diserahkan kepada suatu komuniti ilmiah yang terdiri dari para ahli dalam bidang tersebut. Dengan demikian maka kegiatan penelitian yang dilakukan secara individual dan idiosinkretik yang tidak dapat dilakukan oleh peneliti lainnya, hasil penelitiannya tidak dapat dikatakan sebagai fakta ilmiah. Walaupun fakta-fakta empirik itu amat penting peranannya dalam metode ilmiah, tetapi kumpulan fakta itu sendiri tidak menciptakan teori atau ilmu pengetahuan. Agar fakta-fakta tersebut mempunyai makna, maka fakta-fakta tersebut harus ditata dan diklasifikasi berdasarkan metode yang berlaku, dianalisis, digeneralisasi, dan dikaitkan antara satu dengan lainnya.

Dalam ilmu-ilmu sosial, masalah obyektivitas dari informasi yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan suatu isyu yang utama dalam metode ilmiahnya. Sebab, berbeda dengan dalam sains, informasi yang dikumpulkan itu berasal dari dan mengenai kegiatan- kegiatan manusia sebagai mahluk sosial dan budaya, sehingga dapat melibatkan hubungan perasaan dan emosional diantara peneliti dengan pelaku yang diteliti. Untuk menjaga obyektivitas tersebut, dalam ilmu-ilmu sosial terdapat prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Ilmuwan harus mendekati segala sesuatu yang menjadi sasaran kajiannya dengan penuh keraguan dan skeptik;
  2. Ilmuwan harus obyektif dalam menilai segala sesuatu, yaitu harus membebaskan dirinya dari sikap-sikap pribadinya, keinginan-keinginannya, dan kecenderungan-kecende-rungannya untuk menolak atau menyukai data yang telah dikumpulkannya;
  3. Ilmuwan harus secara etika bersikap netral atau terbebas dari membuat penilaian-penilaian menurut nilai-nilai budayanya mengenai hasil-hasil penemuannya, dan dalam hal ini dia hanya dapat memberikan penilaian mengenai data yang diperolehnya itu apakah sebagai data yang benar atau data yang palsu; dan begitu pula dalam kesimpulan-kesimpulannya dia tidak boleh menganggap bahwa datanya tersebut adalah data akhir, mutlak, atau kebenaran universal. Karena kesimpulan-kesimpulannya hanya berlaku secara relatif sesuai dengan waktu dan tempat dimana penelitian itu dilakukan.
Untuk menjaga nilai obyektif dari data yang dikumpulkan maka dalam setiap kegiatan penelitian harus berpedoman pada metode ilmiah yang ketentuan-ketentuannya mencakup hal-hal sebagai berikut:
  1. Prosedur pengkajian/penelitian harus terbuka untuk umum dan dapat diperiksa oleh peneliti lainnya;
  2. Definisi-definisi yang dibuat dan digunakan adalah tepat dan berdasarkan atas konsep-konsep dan teori-teori yang sudah ada;
  3. Pengumpulan data dilakukan secara obyektif;
  4. Penemuan-penemuannya akan ditemukan ulang oleh peneliti lain; yaitu untuk sasaran atau masalah penelitian yang sama dan dengan menggunakan pendekatan dan prosedur penelitian yang sama;
  5. Di luar bidang sains, tujuan kegiatan pengkajian/penelitian adalah untuk pembuatan teori-teori penjelasan, interpretasi, dan prediksi-prediksi (khususnya dalam ilmu ekonomi) mengenai gejala- gejala yang dikaji.
Secara garis besarnya ada dua macam penelitian; yaitu: (1) Penelitian Dasar (basic research), penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk pengembangan teori-teori ilmiah atau prinsip- prinsip mendasar dan umum dari bidang ilmu yang bersangkutan, dan yang penemuan teori-teori ilmiahnya tersebut dapat digunakan untuk kepentingan kegiatan-kegiatan penelitian yang bersifat aplikasi agar hasilnya lebih baik; dan (2) Penelitian untuk aplikasi (applied research), yang ditujukan untuk menemukan teori-teori atau prinsip-prinsip yang mendasar dan umum dari masalah yang dikaji untuk dapat memecahkan/mengatasi masalah tersebut dan masalah-masalah lainnya yang tergolonga dalam tipe dan kelas yang sama. Masalah-masalah tersebut dapat berupa, atau berkaitan dengan masalah-masalah, bisnis, pemerintahan, perburuhan, pendidikan, ketegangan sosial, dan sebagainya.

Disamping itu, kegiatan-kegiatan penelitian juga dapat digolongkan menurut corak kegiatannya; yaitu: (1) Penelitian yang dilakukan secara individual, yang dalam hal mana peneliti melakukan kegiatan penelitian semata-mata berlandaskan pada perhatian ilmiah dan bebas dari pengaruh keinginan birokrasi pemerintahnya ataupun kepentingan praktis untuk memecahkan sesuatu masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya; kegiatan penelitian seperti ini hanyalah dengan tujuan untuk memperdalam pengetahuannya dan untuk penciptaan/penemuan teori baru atau verifikasi teori yang sudah adal; dan (2) Penelitian terorganisasi sebagai sebuah kelompok penelitian, yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti untuk suatu masalah penelitian yang satu atau untuk sejumlah masalah penelitian yang saling berkaitan dan terkordinasi satu sama lainnya; kegiatan penelitian terorganisasi biasanya dilakukan untuk suatu tujuan aplikasi tertentu. Sesungguhnya kegiatan penelitian aplikasi tidak hanya dilakukan secara terorganisasi dalam bentuk sebuah kelompok peneliti tetapi dapat juga dilakukan oleh seorang peneliti saja. Karena peneliti tersebut biasanya dibantu oleh sejumlah asisten dalam melakukan kegiatan penelitiannya maka juga seringkali kegiatan penelitian seperti ini digolongkan sebagai kegiatan penelitian terorganisasi dalam kelompok.

Tahapan-tahapan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian selalu dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan; dan tahapan-tahapan tersebut dila-kukan berlandaskan pada prinsip-prinsip yang terdapat dalam metode ilmiah. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
  1. Masalah penelitian didefinisikan;
  2. Masalah penelitian tersebut dinyatakan/diungkapkan dalam kaitannya dengan sesuatu kerangka teori tertentu dan berkaitan dengan penemuan-penemuan yang telah ada dari hasil-hasil penelitian sebelumnya oleh peneliti lainnya;
  3. Sebuah hipotesis atau sejumlah hipotesis yang berkaitan dengan masalah penelitian tersebut diciptakan, yang dibuat berdasarkan atas teori-teori yang telah ada sebelumnya, dan hipotesis tersebut menjadi landasan bagi terciptanya masalah penelitian;
  4. Prosedur pengumpulan data ditentukan;
  5. Data dikumpulkan dengan menggunakan tehnik-tehnik penelitian yang telah dikemukakan dalam prosedur penelitian;
  6. Data dianalisis untuk menentukan apakah hipotesis yang telah ditentukan itu dibenarkan/diterima ataukah ditolak; dan
  7. Kesimpulan-kesimpulan dari kajian/penelitian yang dilakukan dihubungkan dengan kerangka teori semula yang digunakan, yang dapat menghasilkan sesuatu perubahan dari teori yang digunakan tersebut setelah diperbandingkan dan dianalisis dengan hasil- hasil penemuan dari penelitian tersebut.

Masalah Penelitian
Diantara berbagai kesukaran dalam melaksanakan penelitian sesuai dengan tahapan-tahapan penelitian, yang tersukar adalah pembuatan masalah penelitian. Tahap-tahap lainnya yang ada dalam prosedur penelitian di Indonesia, telah dipecahkan hambatan- hambatannya melalui berbagai kegiatan penataran dan latihan penelitian sehingga para peneliti Indonesia dapat menjadi pengumpul data yang baik. Tetapi pembuatan masalah penelitian memerlukan kesanggupan pengetahuan yang lebih banyak daripada hanya sekedar sebagai pengumpul data; dan kenyataan ini berbeda dengan pandangan orang awam pada umumnya.

Pada umumnya orang awam berpendapat bahwa masalah penelitian dalam kegiatan penelitian ilmu-ilmu sosial adalah sama dengan masalah sosial (yaitu gejala atau serangkaian gejala yang ada dalam kehidupan sosial yang coraknya menyimpang dari keteraturan sosial yang berlaku sehingga oleh para warga masyarakat digolongkan sebagai masalah sosial). Disamping itu, ada juga orang awam yang menganggap bahwa suatu penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari bidang ilmu-ilmu sosial hanyalah bertujuan untuk mengungkapkan hal-hal yang aneh atau unik atau menarik hati. Anggapan-anggapan seperti tersebut diatas tentu saja tidak benar. Karena sama halnya dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli dalam bidang sains dan teknologi, penelitian- penelitian yang dilakukan oleh para ahli ilmu-ilmu sosial juga bertujuan untuk mencapai suatu pengertian mengenai prinsip-prinsip mendasar yang berlaku umum mengenai hakekat hubungan diantara variabel-variabel yang ada dalam sasaran penelitiannya. Hanya bedanya dengan sains adalah teori-teori yang ditemukan dalam penelitian ilmu-ilmu sosial adalah teori penjelasan dan bukannya rumus-rumus atau hukum-hukum.

Kalau sebuah masalah sosial itu pada hakekatnya berasal dari dan terwujud dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan, maka sebuah masalah penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Penciptaan sebuah masalah penelitian dilakukan dengan berlandaskan pada pembuatan sebuah proposisi (teori atau hipotesis yang belum diuji kebenarannya) yang kerangka acuannya adalah hasil pengkajian mengenai kaitan hubungan antara sejumlah teori yang sudah ada dan relevan, dan yang hasil kajian tersebut dikaitkan dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapi. Dari hasil kajian tersebut dapat tercipta masalah atau masalah-masalah teori yang perlu dikaji kebenarannya berdasarkan atas fakta-fakta.
  2. Penciptaan sebuah masalah penelitian, dengan demikian, adalah sama juga dengan penciptaan suatu model teori atau hipotesis yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi kegiatan penelitian dan bagi mengungkapkan kebenaran dari proposisi yang telah dibuat tersebut.
  3. Dengan demikian pula, setiap kegiatan ilmiah, sebenarnya sama dengan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menguji dan memantapkan kebenaran sesuatu teori atau teori-teori yang ada dengan berdasarkan atas bukti-bukti yang telah dikumpulkan dalam penelitian.
Pembuatan Masalah Penelitian
Pembuatan masalah penelitian dimulai dengan memilih masalah penelitian. Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam memilih sebuah masalah penelitian. Pertama, masalah dibuat berdasarkan atas masalah sosial yang ada di dalam kehidupan sehari-hari, yang dilihat dan dirasakan sebagai sebuah masalah oleh para warga masyarakat, yang kemudian diangkat sebagai sebuah masalah konseptual (contoh : Kurangnya Pengaruh Kontrol Orang Tua Terhadap Tingkat Kenakalan Remaja di Jakarta). Kedua, masalah penelitian dapat dibuat berdasarkan atas memperhubungkan kaitan antara satu konsep dengan konsep-konsep lain, yang menuntut dibuatnya penjelasan mengenai hakekat dari kaitan hubungan-hubungan yang diakibatkannya, dan menuntut adanya pembuktian mengenai kebenaran hakekat (teori atau hipotesis) tersebut berdasarkan atas bukti-bukti empirik yang secara obyektif dan ilmiah dapat dipertanggung-jawabkan (contoh: Hubungan Kekerabatan, Hubungan Kerja, dan Keberhasilan Bisnis Keluarga). Dari hasil pemilihan masalah seperti tersebut di atas, yang dihasilkan belumlah berbentuk sebuah masalah penelitian, tetapi baru sebuah Pernyataan Maksud Penelitian atau statement of intent.

Tahap selanjutnya yang harus dilakukan untuk membuat sebuah masalah penelitian adalah mengolah pernyataan maksud penelitian yang telah dibuat melalui tahap-tahap berikut ini.
  1. Membaca, menyeleksi, dan memperdalam konsep-konsep yang relevan dengan masalah penelitian yang dipilih.
  2. Membaca dan menyeleksi hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah penelitian yang telah dipilih dan secara terseleksi menggunakan penemuan-penemuan yang telah dihasilkan berbagai penelitian terdahulu; baik mengenai tesis atau teorinya, maupun mengenai datanya yang relevan kegunaannya bagi masalah penelitian tersebut.
  3. Membuat hipotesis, yaitu memperlakukan masalah penelitian yang telah dipilih itu sebagai terdiri atas satuan-satuan variabel yang hubungan sebab akibat di antara variabel-variabel tersebut menghasilkan hipotesis atau teori yang perlu dibuktikan kebenarannya.
  4. Membaca dan mempelajari wilayah-wilayah masyarakat dan kebudayaannya untuk diseleksi dan dijadikan sasaran penelitian (sebagai kasus) untuk pembuktian kebenaran hipotesis yang telah dibuat.
Pendekatan Kualitatif dan Obyektivitas Data
Bila sebuah masalah penelitian telah dibuat, maka tahap berikutnya adalah membuat rencana penelitian, yang pembuatannya dilakukan dengan berlandaskan pada masalah penelitian tersebut. Masalah penelitian menentukan luasnya ruang lingkup dan tingkat kedalaman dari data yang akan dikumpulkan dalam penelitian, serta menentukan pendekatan yang akan digunakan sebagaimana terwujud dalam teknik-teknik pengumpulan data dan analisis data. Dalam penelitian ilmiah, secara garis besarnya terdapat dua golongan pendekatan : yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif.

Pendekatan kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan sosial manusia, sedangkan pendekatan kuantitatif memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang mempunyai karakteristik tertentu di dalam kehidupan manusia yang dinamakannya sebagai variabel. Dalam pendekatan kuantitatif hakekat hubungan di antara variabel-variabel dianalisis dengan menggunakan teori yang obyektif, sedangkan di dalam pendekatan kualitatif yang dianalisa bukannya variabel-variabel, yang sebetulnya adalah gejala sosial, tetapi prinsip-prinsip umum yang paling mendasar yang menjadi landasan dari perwujudan satuan-satuan gejala tersebut, yang dianalisis dalam kaitan hubungan dengan prinsip-prinsip umum dari satuan-satuan gejala lainnya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, dan dari hasil analisis tersebut dianalisis lagi dengan menggunakan seperangkat teori yang berlaku.

Dengan demikian, jelas perbedaan sasaran kajian antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif, di mana sasaran kajian kuantitatif adalah gejala, sedangkan sasaran kajian pendekatan kualitatif adalah prinsip-prinsip umum dari perwujudan gejala-gejala. karena gejala-gejala yang ada di dalam kehidupan manusia itu terbatas banyaknya, dan tidak terbatas pula kemungkinan-kemungkinan variasi dan hierarkinya, maka juga diperlukan pengetahuan statistik, yang secara kuantitatif berguna untuk menggolong-golongkan dan menyederhanakan variasi dan hierarki yang ada dengan ketepatan yang dapat diukur secara kuantitatif, dan begitu juga dalam hal penganalisaan data yang telah dikumpulkan. Sedangkan di dalam pendekatan kualitatif pengukuran dari makna dan peranan gejala-gejala yang menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku di dalam kebudayaannya tidak dapat dilakukannya secara obyektif dengan menggunakan ketepatan perhitungan kuantitatif karena makna dari satuan-satuan gejala tidak hanya dapat dilihat di dalam satu konteks saja tetapi juga dapat dilihat dari banyak konteks yang tidak terkontrol.

Dalam pendekatan kualitatif yang menjadi sasaran kajian/penelitian adalah kehidupan sosial atau masyarakat sebagai sebuah satuan atau sebuat kesatuan yang menyeluruh. Karena itu pendekatan kualitatif biasanya juga dikaitkan dengan pengertian yang sama dengan pendekatan yang dalam antropologi dikenal dengan istilah pendekatan holistik. Dalam pendekatan tersebut tidak dikenal adanya sampel, tetapi penelitian kasus, yaitu sasaran penelitian dilihat sebagai sebuah kasus yang diteliti secara mendalam dan menyeluruh untuk memperoleh gambaran mengenai prinsip-prinsip umum atau pola-pola yang berlaku umum berkenaan dengan gejala-gejala yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat yang diteliti sebagai kasus tersebut.

Dalam pendekatan kualitatif metode penelitian yang umumnya digunakan adalah :
  1. Metode pengamatan yang digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang diteliti. Dengan menggunakan metode pengamatan seorang peneliti, dengan berpedoman pada kategori dan kelas tingkat gejala yang harus diamati, dapat mengumpulkan kumpulan data yang lengkap berkenaan dengan gejala-gejala (tindakan, benda, peristiwa dsb) dan kaitan hubungan antara satu dengan lainnya yang mempunyai makna bagi kehidupan masyarakat yang diteliti.
  2. Metode pengamatan terlibat, sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan si peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gejala yang ada sesuai makna yang diberikan atau dipahami oleh warga masyarakat yang ditelitinya. Termasuk di dalam pengertian metode pengamatan terlibat adalah melakukan wawancara atau berkomunikasi dengan para warga masyarakat yang diteliti dan mendengarkan serta memahami apa yang didengarkan.
  3. Wawancara dengan pedoman, adalah suatu teknik untuk mengumpulkan keterangan dari para anggota masyarakat mengenai suatu masalah khusus dengan teknik bertanya yang bebas yang tujuannya adalah memperoleh informasi dan bukannya memperoleh pendapat atau respons. Contoh penggunaan metode wawancara dengan pedoman adalah mengumpulkan data mengenai sistem kekerabatan yang di dalamnya tercakup informasi mengenai aturan-aturan berkenaan dengan struktur kedudukan dan peranan di antara mereka yang tergolong sekerabat dan yang struktur tersebut tercermiun di dalam sistem istilah kekerabatan. Karena itu pemberi keterangan atau informasi di dalam penelitian kualitatif, yang biasanya dilakukan oleh para ahli antropologi, adalah informan. Ini dibedakan dengan penelitian yang menggunakan kuesioner yang pada dasarnya bertujuan mengumpulkan data mengenai respons atau pendapat yang diwawancarai mengenai suatu gejala atau persitiwa, yang pemberi keterangan atau responsnya dinamaka responden.
Dalam setiap kegiatan penelitian yang tergolong dalam ilmu-ilmu sosial, apakah penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif ataupun pendekatan kuantitatif, kegiatannya selalu berpedoman pada pada metode ilmiah (sebagaimana yang telah dibahas terdahulu). Sehingga obyektivitas dari kegiatan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan tanggung jawab ilmiahnya dapat ditunjukkan. Sedangkan obyektivitas data, apakah itu penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif, ditentukan oleh kesanggupan si peneliti di dalam menggunakan metode penelitiannya mengumpulkan data, dan dengan pengetahuan teorinya dalam menganalisis data yang telah dikumpulkan. Kebenaran atau validitas data tidak absolut atau universal.

Penutup

Uraian singkat yang telah disampaikan hanya merupakan pokok-pokok yang patut diketahui mengenai hakekat penelitian. Semua kegiatan penelitian ilmiah, baik dilihat dari segi perbedaan antara sains dan bukan-sains maupun dilihat dari segi pendekatannya yang kualitatif atau kuantitatif, kesemuanya menjadi ilmiah karena berlandaskan pada metode ilmiah; dan semua metode ilmiah yang digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan apapun, pada dasarnya sama, yaitu penciptaan teori ilmiah yang obyektif. Validitas atau kesahihan data atau teori harus dilihat dalam kaitan metodologi yang digunakan, yang bisa berbeda antara yang terdapat dalam satu bidang ilmu pengetahuan dengan bidang ilmu lainnya yang tergolong dalam ilmu-ilmu sosial. Sejumlah teori yang dikembangkan dalam salah satu bidang ilmu pengetahuan dalam ilmu-ilmu sosial dapat berkembang sedemikian rupa sehingga digolongkan sebagai sahih untuk bidang ilmu pengetahuan lainnya yang juga tergolong dalam ilmu-ilmu sosial. Ini dimungkinkan karena sifat-sifat ilmu sosial yang eklektik dan terbuka, berbeda dengan sains
Teori-Teori Evolusi

Teori-Teori Evolusi

Antropologi Indonesia - Teori-Teori Evolusi *)
*)Tulisan ini diambil dari materi perkuliahan yang dibawakan oleh DR. Munsi Lampe, MA. Tahun dan tempat tidak diketahui.

Teori-teori dan pendekatan-pendekatan selalu ada dalam setiap cabang ilmu antropologi. Misalnya antropologi ekonomi yang memiliki teori-teorinya sendiri. Demikian pula dengan antropologi ekologi yang banyak memiliki teori-teori lanjutan dari positivisme evolusi. Di dalam ekonomi banyak teori lanjutan dari fungsionalisme, di dalam teori-teori perubahan kebudayaan, hubungan antar etnik banyak menggunakan teori-teori dari misalnya difusi. Sehingga yang membahas khusus teori memang kebanyakan adalah teori-teori besar, sedangkan teori-teori yang lebih kecil mengambil bagian-bagian atau sub-sub dari cabang-cabang antropologi sosial budaya. Sekarang kita membahas mengenai teori-teori evolusi kebudayaan. Kata kunci dalam teori evolusi adalah bahwa evolusi ingin menjelaskan mengenai fenomena atau gejala atau kejadian-kejadian terkait budaya manusia dengan kehidupan sosial budayanya. Melihat proses perubahan yang sangat lambat, pelan-pelan sekali bahkan sangat pelan, dari bentuknya atau tipenya yang sangat bersahaja. Dalam istilah orang eropa, primitif, sekarang kita tidak boleh menggunakan istilah tersebut karena itu menghina suatu kelompok masyarakat atau bangsa, menuju kepada bentuknya yang sekarang, yang lebih kompleks. Bukan lebih maju, karena bila demikian berarti ada yang tidak maju, padahal setiap kelompok suku bangsa merasakan saatnya, kondisinya pada saat itu sekarang atau di tempat lain bahwa inilah saat yang paling populer dan sempurna, karena dia bandingkan dengan masa sebelumnya yang dia alami. Jadi teori ini menjelaskan fenomena perkembangan, perubahan sosial budaya dari bentuknya yang sangat sederhana kepada yang lebih kompleks.
Kedua, kata kunci kedua ialah apa yang membuatnya berubah secara pelan-pelan adalah ada lingkungan ekologi. Karena mereka hidup dalam alam, sehingga kondisi cuaca, iklim, pegunungan, rawa, sungai, hutan, laut, danau dsb, kemudian manusia perlu hidup dari sumber daya yang disediakan oleh alam baik berupa flora dan fauna, yang merupakan lingkungan di mana manusia harus menyesuaikan diri. Kalau situasi cuaca panas, maka manusia berusaha agar keadaannya lebih sejuk, demikian pula bila kondisi dingin, maka manusia berusaha sarana dan prasarana yang dapat membuat mereka hangat. Keadaan seperti itu tidak bisa direvolusi, karena teknologinya masih sangat sederhana, karena itu membutuhkan ratusan ribu tahun untuk dapat maju sedikit saja, sehingga yang mengalami proses itu tidak pernah menyadari bahwa telah terjadi perubahan. Mengapa tidak dirasakan perubahan itu, karena satu generasi umurnya mungkin hanya 60 tahun. Sedangkan perubahan itu mungkin terjadi seratus tahun sehingga tidak dapat dirasakan. Karena itu hanya ide, teknologi hanya bertambah sedikit misalnya tombak yang lebih panjang, atau kualitas yang semula dari batu kemudian menjadi kayu dsb.
Teori evolusi sebenarnya bahan-bahannya tidak didapatkan dari penelitian yang dimaksudkan. Mereka hanya mengambil tulang-tulang yang kebetulan didapat, berupa tengkorak atau fosil yang kemudian disusun dan ditemukan bahwa ada alat yang bersahaja yang terbuat dari batu, dan ada yang lebih maju yang terbuat dari besi. Lalu disimpulkan bahwa melangkah dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih tinggi sedikit memakan waktu yang sangat lama, karena ada ahli arkeologi yang melakukan penggalian/eskafasi yang menemukan alat tertentu dalam suatu struktur tanah. Ada cara pengukuran tertentu untuk mengukur usia lapisan tanah yang terjadi selama ratusan tahun. Dari situ maka mulai dikronstruksi perubahan-perubahan. Inilah perbedaannya dengan penelitian sekarang di mana kita langsung turun ke lapangan mencari data, penelitain evolusi awal hanya menemukan tengkorak atau fosil peralatan manusia yang kemudian disusun dan dihubung-hubungkan dengan tengkorak tulang binatang yang dia konsumsi, lalu dianalisa bedasarkan “dugaan-dugaan”.
Lalu, teori ini merupakan aplikasi dari teori evolusi biologi. Teori evolusi biologi beranggapan bahwa ada perkembangan struktur tubuh manusia dari bentuknya paling sederhana sampai yang paling sempurna. Teori evolusi ada beberapa macam. Dalam studi evolusi ada 4 macam teori evolusi, yaitu:
  • teori evolusi unilineal,
  • multilineal,
  • universal
  • deverensial.
Di dalam istilah yang digunakan, biasanya hanya di sebutkan evolusi budaya, ada juga evolusi sosial. Lebih baik di gunakan evolusi sosial budaya karena sosial dan budaya tidak dapat dipisahkan. Contohnya, yang dimaksud sosial misalnya stratifikasi, atau misalnya berinteraksi, atau kumpulan orang-orang yang kita sebut penduduk. penduduk baru dapat dikatakan masyarakat bila ada interaksi, kerjasama, bisa konflik, itu yang disebut sosial. Tetapi bagaimana cara bergaul, ada aturan yang mengatur setiap orang baik dalam interaksi setara maupun berstruktur. Demikian pula dengan kata-kata yang akan diucapkan ada aturannya. Jadi sosial dan budaya tidak dapat dipisahkan. Budaya merupakan fahamnya, sosial adalah perilakunya. Kalau hanya kita sebut budaya, itu berarti tidak ada dibumikan, tidak diakarkan. Bisakah kita meyakinkan orang hanya dengan faham, harus dengan praktek. Praktek merupakan sosial. Demikian pula dengan sosial, yang tidak dapat dipisahkan dengan budaya. Binatang juga bersosial, bantu-membantu tetapi tidak tidak berbudaya karena bagi hewan, berkelompok, bekerjasama, membuat sarang merupakan insting, bukan budaya. Kalau orang mengatakan inikan bahasa, inikan keyakinan, tidak ada sosialnya, hanya budaya. Tetapi keyakinan inikah yang kita ajarkan, lalu kita praktekkan bersama dan bukan satu orang. Seperti misalnya agama, bukan wahyunya yang menjadi persoalan. Wahyu tidak dapat diganggu gugat, tetapi wahyu itu harus dienkulturasi, diajarkan kepada orang. Jadi, itu namanya membumikan agama, maksudnya dipraktekkan. Nah yang menerima pertama adalah otak, misalnya dalam islam Iqra, bacalah lalu dipahami. Setelah dibaca tidak lengkap apabila tidak diamalkan, disosialkan. Jadi turunnya itu melalui tahap. Tahap pembudayaan, dimasukkan dalam keyakinan, keimanan, baru kemudian diperktekkan lagi dalam bentuk ibadah, upacara dsb, dan itulah sosialnya karena diperktekkan seara bersama-sama. Oleh karena itu harus dipadukan keduanya. Namun dari segi struktur susunan akan terdengar kurang pas bila dikatakan budaya sosial, lebih baik menggunakan sosial budaya kalau mengacu pada fenomena itu. Kalau budaya sosial maksudnya kita mencoba-coba membudayakan sosial itu, cara bergaul dibudayakan, atau cara bersosial dari eropa atau dari timur yang akan kita terapkan atau budayakan. Memang dalam berbagai tulisan ada yang dikatakan evolusi sosial, misalnya teori tentang keluarga dari matrilineal, patrilineal kemudian ke parental. Tetapi pada dasarnya ia adalah budaya karena ada aturan yang mengatur. Demikian pula dengan teori evolusi religi atau keyakinan. Mulai dari animisme, dinamisme, politeisme dan monoteisme. Tetapi tetap saja menyangkut budaya meskipun dia merupakan keyakinan. Sebabnya ialah karena ia diperaktekkan dalam bentuk berbagai kegiatan ritual, yang melibatkan orang-orang
Teori Evolusi Universal Leslie White

Teori Evolusi Universal Leslie White

Antropologi Indonesia - Teori Evolusi Universal Leslie White *)
*) Tulisan ini diambil dari materi perkuliahan yang dibawakan oleh DR. Munsi Lampe, MA. Tahun dan tempat tidak diketahui.

Teori evolusi universal oleh Leslie White didasarkan pada asumsi tentang penggunaan energi. Jadi inti kajiannya adalah perubahan atau peningkatan energi. Misalnya penggunaan tenaga manusia, kemudian berkembang ke arah memadukan tenaga manusia, tenaga hewan dan tenaga alam. Kemudian lebih berkembang lagi menjadi tenaga surya, air, angin, listrik, dsb. Jadi yang dihitung adalah seberapa besar energi yang digunakan dalam melakukan aktivitas. Misalnya ketika masa berburu dan meramu, manusia hanya menggunakan tenaganya sendiri, jumlah energi yang digunakan kemudian dihitung menggunakan rumus tertentu, yang terjadi pada rentang waktu jutaan tahun, berevolusi pada suatu tahap di mana manusia sudah menciptakan teknologi yang di samping teknologi dari alam, juga manusia menggunakan tenaganya ssendiri. Seperti misalnya dalam kegiatan membajak, memang ada tenaga hewan yang digunakan untuk menarik bajak itu, tetapi juga ada tenaga manusia yang menekan bajak agar masuk ke dalam tanah. Kemudian sampai pada tahap peradaban di mana manusia bukan hanya menggunakan tenaga binatang, bahkan di beberapa tempat tenaga binatang dan manusia sudah ditinggalkan, tenaga hewan hanya dibutuhkan atau dialihkan menjadi sumber bahan makanan, tetapi mulai mengeksploitasi tenaga alam. Misalnya di Sumatra dibangun kincir air untuk memompa air dari daerah yang rendah ke daerah yang lebih tinggi. Kemudian penggunaan tenaga angin di Belanda untuk menggerakkan kincir angin untuk menggiling gandum dan memompa air.
Jadi inti dari teori ini adalah semakin besar energi yang digunakan, maka semakin tinggi tingkat evolusi suatu masyarakat. Dikatan universal karena dimana-mana di belahan di dunia ada perkembangan serupa, yaitu pemaduan tenaga manusia, hewan dan alam.
Teori Evolusi Unilineal dalam Antropologi

Teori Evolusi Unilineal dalam Antropologi

Antropologi Indonesia - Teori Evolusi Unilineal dalam Antropologi *)
*)Tulisan ini diambil dari materi perkuliahan yang dibawakan oleh DR. Munsi Lampe, MA. Tahun dan tempat tidak diketahui.

Teori ini maksudnya mengikuti satu garis saja. Contoh dari teori evolusi ini adalah teori evolusi keluarga dan agama. Contoh penerapan teori ini adalah dilakukan oleh L.H. Morgan.
Fase revolusi mulai dihitung ketika terjadi revolusi Prancis yang ditandai oleh dua hal yaitu teknologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, persenjataan, segala macam sarana-prasarana yang ditujukan untuk politik dll.
Di dalam teori ini ada yang mencoba membuat asumsi, contoh-contoh atau ilustrasi bahwa yang menempati evolusi tahap terendah adalah masyarakat atau kelompok suku bangsa yang ada di Benua Afrika. Sedangkan yang dikategorikan berada pada tahap pertengahan adalah bangsa-bangsa Asia-Arab, dan suku-suku di luar keduanya adalah golongan pertama.
Kritik yang dilontarkan kepada penganut teori evolusi unilineal ini adalah bahwa data yang digunakan, dalam antropologi bahan teori adalah etnografi. Dalam kajian ini juga ada etnografi tetapi bukan dimaksudkan untuk membangun teori evolusi, khususnya unilineal. Hanya karena beberapa orang tertarik akan keunikan suku-suku di luar Eropa, maka para pelancong, pedagang, membawa benda dan berbagai barang ke Eropa lalu dipamerkan, yang kemudian menarik perhatian para ahli evolusi biologi yang berkesimpulan bahwa ternyata ada juga evolusi budaya. Jadi teori itu dibentuk atau dibangun dari metode spekulasi. Namun kita tidak dapat mengatakan pula bahwa teori evolusi unilineal ini salah, karena memang ada perkembangan manusia. Ini dapat kita lihat dari penggunaan berbagai alat-alat sederhana di berbagai pelosok pedesaan yang masih tetap digunakan meskipun sudah ada teknologi yang lebih baik.
Yang dapat diambil dari teori evolusi unilineal ini adalah bahwa ia dapat dijadikan kerangka penjelasan. Evolusi merupakan kajian terhadap satu kebudayaan dari satu masyarakat. Sama sekali tidak ada dari luar, jadi merupakan perkembangan atau kajian “perkembangan internal”. Evolusi diperkirakan mulai terjadi sejak zaman makhluk homo sapiens hingga abad ke-16.
Teori Evolusi Multilinear

Teori Evolusi Multilinear

Antropologi Indonesia - Teori Evolusi Multilinear *)
*)Tulisan ini diambil dari materi perkuliahan yang dibawakan oleh DR. Munsi Lampe, MA. Tahun dan tempat tidak diketahui.

Pengembara, seperti di daerah padang pasir Timur Tengah, atau di Afrika yang tidak mengenal pertanian tapi mengembala. Mereka berpindah-pindah mencari padang rumput. Jadi apa yang secara unilineal dilihat sebagai garis lurus ternyata salah malainkan bentuknya bercabang-cabang. Belum lagi sistem kekerabatan yang juga bercabang misalnya kesenian, dsb. Teori evolusi multiunilineal ini dapat diperhatikan oleh Julian Steward yang melakukan study ekologi manusia yang berfokus pada inti kebudayaan atau cultural core. Jadi kalau kekerabatan atau kesenian lebih banyak disumbangkan dari luar. Maksudnya karena ada proses sejarah, pendidikan, migrasi, jadi ada proses sejarah perubahan atau dinamika. Tetapi kalau subsistem ini masuk dalam kajian evolusi karena ada kekuatan-kekuatan internal yang mendorong kebudayaan itu maju atau berkembang. Kalau yang lain misalnya kesenian, organisasi sosial menurut Julian Steward lebih banyak disumbang oleh proses difusi.
Metode ekologi budaya Julian Steward dibagi dua yaitu ada perkembangan-perkembangan, ada yang pasif yaitu lingkungan yang merupakan faktor internal. Jadi yang disebut inti kebudayaan yaitu suatu unsur kebudayaan, aspek subsistem yang perkembangan evolusinya sangat dipengaruhi oleh kekuatan alam, baik berupa letak geografis, musim, iklim, SDA, termasuk di dalamnya pola-pola pemukiman. Perkembangan pola pemukiman yang menetap dan berpindah-pindah mengikuti aktifitas ekonomi masyarakat.
Jadi kritik penganut teori multilineal kepada unilineal adalah bahwa unilineal terlalu menyederhanakan fakta. Misalnya ketika kita membahas pertanian dari sudut pandang teori ini, maka dimulai dari pertanian berpindah-pindah, kemudian mulai menetap atau permanen tetapi cendrung memperluas. Lama kelamaan mulai ada yang menjadi sawah, kebun, tetapi masih tradisonal. Perkembangan selanjutnya terjadi pembagian spesifik berupa kebun yang khusus ditanami tanaman tertentu, sehingga percabangannya semakin banyak.
Sama juga dengan misalnya nelayan. Kegiatan kenelayanan masih termasuk ke dalam kelompok pemburu peramu, tetapi muncul kegiatan nelayan yang khusus. Nelayan menangkap ikan-ikan alam, bukan hasil budidaya. Kemudian tetap saja ada yang menangkap ikan di laut tetapi sudah mulai melakukan pertukaran atau jual beli. Lama kelamaan yang budidaya kemudian kembali mengkhusus dengan adanya panca usaha tani, seperti khusus untuk ikan, khusus untuk udang, yang kemudian berkembang ke yang lebih modern. Sementara mereka yang tetap menangkap ikan di laut berkembang dari ekstensifikasi artinya banyak alat-alat tangkap yang digunakan, lama-kelamaan hanya satu yang digunakan misalnya pukat harimau, dan terjadi pula ekstensifikasi modal. Pada bagian ini tidak lagi masuk pada pembahasan evolusi karena telah berlangsung cepat. Revolusi pertanian ditandai atau dimulai ketika dicanangkan revolusi hijau, sementara sebelumnya merupakan evolusi, dapat saja beberapa generasi, satu atau dua, belum sadar bahwa telah terjadi perubahan, karena perubahan tersebut sangat lambat dan sedikit terjadi.
Teori Evolusi Diverensial dalam Antropologi

Teori Evolusi Diverensial dalam Antropologi

Antropologi Indonesia - Teori Evolusi Diverensial dalam Antropologi *)
*)Tulisan ini diambil dari materi perkuliahan yang dibawakan oleh DR. Munsi Lampe, MA. Tahun dan tempat tidak diketahui.

Dalam teori ini, dianut anggapan bahwa kecepatan evolusi atau perkembangan dari setiap unsur kebudayaa itu berbeda-beda, dalam suatu kebudayaan. Misalnya kebudayaan bugis, makassar, yang memiliki kelebihan masing-masing. Ada kepercayaannya, teknologinya, bahasanya. Bahkan bahasa dapat dikatakan sangat lambat perubahannya, bahkan jika dibandingkan dengan kepercayaan. Karena entah sudah berapa tahun orang menggunakan bahasa bugis yang hingga kini masih didapatkan. Memang ada beberapa kata asing yang dimasukkan tetapi bukan berarti hilang sama sekali. Dibandingkan dengan agama yang cenderung cepat berubah seperti ketika masa penaklukan bangsa-bangsa di luar Eropa, di mana masyarakat jajahan kemudian pindah dari satu agama ke agama lainnya. Tetapi bahasa, seperti misalnya di Indonesia yang dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun, toh bahasa daerah tetap bertahan dan kita tidak menggunakan bahasa Belanda. Perubahan atau evolusi bahasa itu sulit untuk diukur, meskipun bahasa dan seni merupakan evolusi terpenting dalam kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa timbulnya bahasa sama dengan munculnya mahluk Homo Sapiens setelah evolusi mahluk primat selesai. Perkembangan bahasa hanya terjadi pada aspek pengayaan kata dan penghalusan struktur atau gramatika.
Setiap unsur kebudayaan dalam suatu etnik sudah mengalami dinamika. Sehingga banyak kelompok-kelompok etnik ditandai dengan dinamikanya. Kita kemudian dapat membandingkan bahwa suatu etnik telah lebih maju dari yang lain. Demikian pula dengan teknologi yang semakin maju. Sehingga hampir semua etnik di Sulawesi Selatan misalnya, seperti sudah sama saja, yang berbeda hanya bahasa. Dan agama pun, dahulu agama kita lain, kemudian berubah dengan agama islam, kristen, dsb. Tetapi bahasa yang jauh lebih dahulu telah terbentuk masih tetap langgeng. Jadi bahasa merupakan unsur kebudayaan yang paling sulit berubah, dan sekaligus menjadi penanda etnik. Jadi kelemahan atau kesalahan dari tiga teori evolusi sebelumnya adalah karena ke tiganya tidak mengukur kecepatan dan perbedaan kecepatan yang terjadi pada setiap unsur kebudayaan.
Munculnya perbedaan pandangan dari ke-4 teori evolusi ini karena perbedaaan kejelian dari masing-masing ahli yang mencetuskannya. Lahirnya teori evolusi baru disebabkan karena ahli lain menganggap teori yang dihasilkan pendahulunya kurang dapat menjelaskan fenomena perkembangan atau perkembangan kebudayaan. Teori sebelumnya terlalu menyederhanakan, atau keliru. Tetapi tidak berarti munculnya sebuah teori evolusi baru membatalkan teori sebelumnya. Misalnya teori keluarga dari Bachoven yang mengatakan bahwa kelurga terbentuk dari prosews evolusi dari promiscuetet, matrilineal, patrilineal kemudian berakhir pada parental. Teori ini seperti sangat menyederhanakan dan memastikan proses itu terjadi pada semua keluarga. Padahal hal itu bisa saja terbalik kejadiannya. Bisa saja ketika sampai pada fase matrilineal, kemudian terjadi percabangan. Bisa juga dari Promiscuetet, ada yang kemudian menjadi matrilineal, dan ada yang langsung membentuk patrilineal. Kemudian itu bisa bercabang lagi...
Tetapi sebetulnya, kesenian amat berkaitan dengan ekonomi. Sehingga sulit bagi kita untuk memisahkan antara unsur-unsur kebudayaan, dan konsekuensinya adalah bahwa sulit menentukan mana unsur kebudayaan yang lebih maju perkembangannya dari sudut evolusinya, karena semuanya saling terkait. Jadi teori evolusi diverensial juga masih mengandung kekeliruan karena tidak dapat menentukan secara jelas mana unsur kebudayaan yang paling laju evolusinya. Karena itu mungkin yang tepat digunakan adalah teori evolusi multilineal yang bercabang-cabang.
Ciri evolusi adalah bahwa perubahan yang terjadi tidak disadari oleh masyarakat dari kebudayaan yang mengalaminya. Tidak dapat disadari karena dalam satu tahap evolusi, dialami oleh beberapa generasi. Kedua ada perubahan bentuk yang kita lihat. Kemudian kekuatan yang menjadi faktor penggerak adalah faktor internal yaitu alam. Jadi alam memberikan tantangan, dan manusia mencoba atau berusaha mempertahankan hidup, yang disebut adaptasi. Penyesuaian itu sangat lambat. Misalnya penyesuaian secara biologi. Jadi ransangan untuk berkembang dalam evolusi adalah ransangan internal. Kalau revolusi disebabkan oleh banyak faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar. Ciri lain dari evolusi adalah bahwa ada kesinambungan antara satu kenyataan dan kenyataan setelahnya. Kelemahan utama dari teori evolusi adalah karena menafikan adanya pengaruh dari luar yang disebabkan oleh terjadinya kontak-kontak kebudayaan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan komparatif khususnya teori evolusi universal. Kalau teori evolusi diverensial relatif tidak menggunakan metode komparatif karena ada premis bahwa subsistem itu lebih mengarah kepada adaptasi alam sehingga kalau alamnya lain tidak bisa dikomparasikan. Bisa juga dikomparasikan misalnya kalau orang itu tinggal di puncak gunung, menggunakan pakaian tebal.
Teori evolusi sosial budaya merupakan tiruan dari teori evolusi biologi. Bagaimana teori evolusi biologi itu, evolusi biologi berasumsi bahwa evolusi biologi dari mahluk primat ke mahluk yang lebih sempurna, termasuk manusia dari Homosapiens, merupakan hasil dari seleksi alam. Jadi ada dua seleksi, yaitu seleksi internal atau adaptasi internal dan adaptasi terhadap lngkungan luar. Jadi ada perubahan-perubahan dari fisiologis manusia atau studi mahluk sehingga tubuh mahluk itu sendiri harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam sehingga akan semakin kompleks sel-sel di dalam tubuhnya . kemudian ritangan-rintangan atau hambatan-hambatan lingkungan seperti cuaca, topografi, perubahan iklim, merupakan seleksi yang sangat besar, oleh karena itu membentuk juga fisik ini menjadi lebih kompleks lagi, sehingga timbul suatu asumsi mengatakan bahwa hanya sel-sel, atau gen-gen yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan internal atau eksternal yang dapat bertahan, sedangkan yang tidak, akan punah. Ini kemudian diadopsi dalam penjelasan evolusi kebudayaan. Jadi ada banyak unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok etnis atau suatu kelompok masyarakat, yang sebetulnya sudah jadi atau setengah jadi, tetapi kemudian menghadapi suatu rintangan yang sangat berat, sehingga diberhentikan. Adapula kelompok-kelompok biologi, spesis-spesis yang kemudian menjadi punah karena tidak sesuai dengan kondisi alam. Ini sesuai pula dengan teori fungsi, bahwa suatu ide, atau perilaku atau karya, kalau tidak bisa memecahkan persoalan, tidak difungsikan lagi karena ketidak mampunya memenuhi kebutuhan manusia, khususnya kebutuhan dasar.
Untuk zaman sekarang ini, terlalu cepat orang mengganti unsur-unsur yang dimilikinya, karena biasanya bukan hanya sudah tidak cocok lagi, tetapi dapat juga karena ada yang lebih baik dan lebih efektif digunakan. Dalam konteks ini kita tidak lagi dapat menggunakan teori evolusi, tetapi lebih tepat bila digunakan teori difusi.
Dalam kajian religi, mundurnya atau menghilangnya suatu kepercayan dapat diakibatkan oleh semakin banyak unsur dalam kepercayaan tersebut mulai hilang. Ini disebabkan terjadinya ekspansi kepercayaan dari luar. Seperti misalnya daerah toraja, mulai barat sampai timur, hampir semua berbatasan dengan Duri, beragama Islam, meskipun dia termasuk daerah tator. Itu terutama terjadi di zaman gerombolan. Sebelumnya mereka itu penganut agama Aluk’Todolo. Hanya saja tidak sama dengan yang di daerah selatan. Di sana kerukunan antara umat beragama sangat tinggi. Karena mereka adalah orang-orang serumpun. Jadi bila di daerah itu dilaksanakan upacara rambu Solo, orang atau keluarga yang beagama islam juga ikut menyumbang. Tetapi caranya menyumbang tidak sama mereka yang menganut Aluk’Todolo, artinya adalah ada semacam hutang, misalnya kita juga harus membayar atau menyumbang seekor kerbau yang tanduknya memiliki beberapa ruas, mereka sekedar menyumbang saja, bisa sapi, bisa kerbau tetapi tidak berupa babi karena dilarang dalam agama Islam, tetapi tidak diukur lagi besarnya atau beratnya. Jelas ini merupakan kemerosotan dalam hal jumlah populasi penganut ajaran tersebut. Tetapi ini bisa mempengaruhi juga kadar keyakinan penganutnya, karena semakin tergerogoti oleh berpencarnya para penganut, sehingga bisa saja mempengaruhi bahwa ada unsur-unsur yang semakin lama semakin ditinggalkan. Sehingga kemudian penganut lain mencoba mempertahankan intinya saja, sedangkan yang tidak prinsipil tidak dilakukan lagi. Demikian pula dengan agama kristen yang secara halus menggerogoti itu. Yang masih menguntungkan adalah konsep-konsep pelestarian budaya yang memang lahir dari dari kebijakan pemerintah. Dengan alasan bahwa budaya itu adalah identitas Nasional dan untuk tujuan pengembangan pariwisata, yang dari segi ekonomi sangat potensil, sehingga penganutnya kembali berbesar hati, yang tadinya sudah mulai surut. Itu suatu proses dalam evolusi, merosot dan akhirnya hilang.
Kalau dalam hal kepercayaan-kepercayaan tertentu juga, seperti sinkritisme seperti misalnya di Enrekang yang masih menganut kepercayaan dalam hal upacara pemakaman yang dipadukan dengan tradisi pemakaman Islam. Pada saat dilaksanakan, terdapat pembacaan ayat-ayat, namun juga terdapat suatu tatacara yang sangat prosedural. Lama kelamaan semakin terkikis dan akhirnya penganutnya yang juga mulai masuk dalam kelompok Muhammadiyah meninggalkannya. Seperti misalnya seorang imam yang juga bertindak sebagi dukun yang biasa memimpin upacara penguburan di Enrekang, yang sebetulnya merupakan warga Muhammadiyah. Tetapi karena dia tidak mau kehilangan hubungan-hubungan kekeluargaan dengan kerabat lainnya yang masih menganut kepercayaan itu, maka bila dia di panggil dia mengatakan karena sekarang sudah sulit mencari unsur-unsur dari alat-alat upacara, maka kita lakukan saja intinya. Ini berarti sudah ada yang hilang dari kepercayaan itu. Kemudian dia berpesan kepada anaknya, bahwa kalau dia meninggal makam saya seperti orang Islam umumnya dan jangan dengan upacara seperti itu lagi. Hanya karena hubungan keluarga saja maka dia melakukan tugas keagamaanya berdasarkan kepercayaan lama. Bila itu terjadi, maka penganut kepercayaan tersebut tentunya akan kehilangan dukun, karena satu persatu meninggal dunia atau meninggalkan upacara tersebut. Jadi yang mengikis itu adalah pengaruh dari luar dan karena mereka sendiri merasakan bahwa hal itu tidak lagi dapat memecahkan persoalan hidup mereka, sehingga kemudian tujuannya bergeser dan berusaha mencari pengganti kalau tidak dapat mengubahnya sendiri. Jadi baik dari perspektif fungsional maupun asumsi-asumsi evolusi memang sangat dibenarkan bila banyak unsur-unsur kebudayaan yang lama merosot. Hanya umumnya tidak dikatakan demikian karena evolusi itu bergerak maju. Kalau kemudian ada yang ditinggalkan tidak diartikan sebagai suatu kemerosotan karena ada penggantinya. Penggunaan kata merosot disebabkan karena kita kemudian membandingkan masa sebelumnya dengan kondisi yang kita alami dengan sekarang, sehingga kita mengatakan bahwa dulu masih baik. Lalu kita memimpikan situasi lama yang sering kita dengar lewat cerita-cerita orang tua kita. Menurut ahli evolusi Cina, bahwa eropa memiliki evolusi biologi yang melompat-lompat karena terlalu banyak rintangan alam yang dihadapi dalam waktu yang sangat singkat, sehingga hasilnya kasar. Tentunya pandangan ini sangat etnosentris.
Zaman revolusi industri adalah zaman yang menghapus dominasi agama di Eropa. Zaman ini melahirkan paham theisme yang menganggap bahwa Tuhan itu ada tetapi dia tidak turut campur dalam urusan dunia.
Tidak semua penganut teori evolusi biologi dapat dikatakan atheis, sebab para filsuf di Eropa yang menganut teori ini tetap menganggap bahwa ada prima kausa atau penyebab pertama dan ciptaannya itulah yang berproses sehingga evolusi itu terjadi.
Back To Top